Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Metode Salaf dalam Tarbiyah dan Muamalah

Metode Salaf dalam Tarbiyah dan Muamalah

 METODE SALAF DALAM TARBIYAH DAN MUAMALAH

(dauroh ilmiah manado) 

Beliau Ustadznaa Abu Ibrahim Muhammad as-sewed hafizhahullahu membawakan nasihat² dari al-Imam Abdurrahman bin Naashir As-Sa'dy rahimahullahu :

Wajib bagi seorang guru dan murid membangun dakwahnya :

1. Diatas sifat ikhlas karena Allah ta'aala. 

Dalam bentuk (sifat ikhlas) contoh, ketika dirinya melangkahkan kaki hendak mengajar atau belajar, membeli buku / kitab² untuk mengajar atau belajar, semuanya butuh sifat ikhlas .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.

(Hadits riwayat Muslim). 

Menempuh jalan mencari ilmu ada 2 pengertian :

1. Secara hissiyah, yaitu mendatangi tempat taklim, dauroh² dengan berkendaraan menempuh  jarak yang jauh .

2. Secara maknawiyah, dengan membaca kitab² ulama. 

Dua perkara diatas adalah sarana menuju ke surga. 

Termasuk perkara keikhlasan adalah selalu berta'awun kerjasama dalam kebaikan, Allah ta'aala berfirman :

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam perkara kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. 

[al-Maidah :2]

Merupakan amalan keikhlasan adalah dengan menunjukkan amalan kebaikan kepada orang lain. 

Misalnya dalam acara dauroh, ada panitia yang mempersiapkan seluruh tehnis kegiatan, ada ikhwah yang menunjukkan jadwal dauroh dan lain² .

Semua perkara akan menjadi sebab pelakunya mendapatkan pahala dari Allah ta'aala. 

من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya .

[Hadits riwayat Muslim]

2. Mendahulukan perkara yang lebih penting dari perkara yang penting.

 تقديم الأهم على المهم

Seorang pengajar harus memulai perkara yang paling terpenting dalam memberikan pelajaran kepada muridnya, seperti mengajarkan aqidah sebelum pelajaran² lainnya. 

Mengajarkan pelajaran bahasa arab dari kitab yang ringkas mudah dipahami, seperti al-ajurumiyah. 

Jangan dibebankan murid kepada istilah² perbedaan ulama nahwu , apakah mahdzab ulama dari bashroh atau kuffah.

Mereka akan bingung dan bosan, dan in syaa Allah akan bertahap diberikan pelajaran² kepada mereka, sehingga membuat mereka senang dengan pelajaran. 

Ustadznaa Abu Ibrahim Muhammad as-sewed hafizhahullahu menukil nasihat² asy-Syaikh Abdurrahman bin Naashir As-Sa'dy rahimahullahu :


3️⃣ Hendaklah seorang pengajar mencari kitab² yang sesuai sunnah dan memberikan faidah² kepada muridnya. 


4️⃣ Berupaya untuk bersungguh² dalam membahas kitab hingga selesai, dan tidak berpindah² kitab yang belum selesai pembahasan, karena perkara ini (pindah² kitab yang belum selesai)  akan menimbulkan kebosanan dalam diri murid² .


5️⃣ Seorang pengajar hendaklah melihat kemampuan murid² dalam perkara sejauh mana memahami pelajaran² , jangan dibebankan murid dalam perkara yang tidak mampu , dan sabar menghadapi kekurangan murid² .

Ustadznaa hafizhahullahu memberikan tambahan faidah agar kita selalu belajar adab² , beliau membawakan kisah orang² yang duduk di majelis Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu :

Berkata Adz-Dzahabi rahimahullahu,

كان يجتمع في مجلس أحمد زهاء خمسة آلاف – أو يزيدون نحو خمس مائة – يكتبون، والباقون يتعلمون منه حسن الأدب والسمت

Yang hadir di majelis Imam Ahmad ada sekitar *5000 orang atau lebih*. 

500 orang menulis hadits , sisanya hanya mengambil contoh adab dan kepribadian / akhlak imam ahmad. 

[Siyaar A’lamin Nubala’]

Beliau juga menceritakan sikap tawadhu' Imam Ahmad ketika mengambil ilmu duduk dibawah, padahal beliau ditawari oleh Imam Abu 'Awanah rahimahullahu untuk duduk disampingnya, tapi beliau enggan seraya berkata :

Ini saatnya waktu menimba ilmu. 

Dan terakhir ustadznaa hafizhahullahu mengingatkan kepada pengajar untuk memberikan waktu khusus kepada murid² sebelum menutup majelis ilmu, agar memberi nasihat² dengan hikmah :

Kalian hendaklah sungguh² belajar, kalian akan meneruskan dakwah ...

atau nasihat kepada pengajar (internal) :

Wahai para pengajar semangatlah dalam memberikan pelajaran, karena belum tentu anak kita sendiri mau belajar. 

Adapun mereka anak² didik murid² meskipun bukan anak² kita secara nasab, tapi mereka mau belajar dan semoga mewariskan ilmu kita. 

Beliau hafizhahullahu memberikan *faidah (contoh) doa nabiyullah zakariya yang sangat berkeinginan memiliki keturunan* yang akan diharapkan mewarisi ilmu dan kenabian.

يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّا

yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai .

(surat maryam: 6)

Demikianlah secara makna nasihat² beliau hafizhahullahu yang kami catat dan ingat, semoga Allah ta'aala memudahkan kita untuk beramal shalih. 

آمين

Sumber : https://t.me/mahad_almanshuroh_poso



Inilah Akibat Takalluf, Membebani Diri

Inilah Akibat Takalluf, Membebani Diri

AKIBAT TAKALLUF, MEMBEBANI DIRI DENGAN URUSAN-URUSAN YANG BUKAN MENJADI KEWENANGANNYA

Al Ustadz Muhammad as-Sarbini hafizhahullah


Yang kedua: Takalluf

💥Membebani diri di luar kemampuan.

💥Memaksakan diri di luar kemampuan (di luar kapasitasnya).

💥Mengurusi hal-hal yang bukan urusannya (bukan bidangnya).

🚧Dia tidak punya kapasitas dalam urusan itu.

🚧Tidak punya keahlian dalam urusan itu.

👉🏼Tapi dia memaksakan diri.

Tidak ada kepentingannya pada perkara itu tapi memaksakan diri, mengurusi urusan-urusan tersebut. Membebani dirinya di luar kemampuannya (kapasitasnya).

Akhirnya: 

🦠Terjadilah error-error.

🦠Terjadilah kekeliruan-kekeliruan.

🦠Kesalahan-kesalahan.

❌Tidak boleh.

⚜️Seseorang harus mengerti kadar dirinya, 

رحم الله امرأً عرف قدر نفسه

Allah merahmati orang yang mengerti kadar dirinya.

Kemudian mencukupkan diri dengan urusan-urusannya sendiri. Atau yang terkait dengannya, atau memang ada kepentingannya dalam perkara itu.

Jangan membiasakan diri sibuk dengan urusan-urusan yang banyak padahal diluar kepentingannya. Urusan-urusan yang dia tidak punya kapasitas disitu, tidak punya kemampuan untuk masuk dalam perkara itu.

Tetapi dia memaksakan diri (membebani diri) akhirnya terjadi error, terjadi kesalahan, na'am.

Kalau itu kemudian jadi kebiasaan, akhirnya error-error itu (kesalahan-kesalahan itu) terakumulasi bisa menghancurkan, ya.. diri seseorang itu jadi pintu jalan masuk bagi setan.

Menyeret dia, ya..

Dibuat asyik, ya..

Sibuk dengan urusan ini dan itu.

Dalam bentuk memaksakan dirinya, diluar kemampuannya, bukan kepentingannya.

Ya.. sehingga cepat atau lambat dihancurkan oleh setan dengan jalur itu.

Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dilarang  oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: Takalluf

وهو خير خلق الله، سيد الأنبياء والرسل، أتقى الناس

Padahal beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pimpinan para Nabi dan Rasul yang tertinggi derajatnya disisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Beliau adalah manusia yang paling bertaqwa, tetapi dalam dakwah beliau mengemban risalah (syariat) yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala kepada beliau, yang diamanahkan kepada beliau. Nabi 'alaihi sholatu wassalam tidak keluar dari apa yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Berdakwah sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Berdakwah sesuai dengan ilmu (wahyu) yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam:

قل

Katakan wahai Muhammad, Nabi 'alaihi sholatu wassalam.

قل ما أسألكم عليه من أجر وما أنا من المتكلفين (ص: ٨٦)

Katakan: Aku tidak meminta dari kalian bayaran (upah) atas jasa aku mendakwahi kalian.

وما أنا من المتكلفين

Dan aku tidak termasuk dari orang-orang yang takalluf dalam dakwah ini.

Tidak takalluf. 

Saya tidak keluar dari koridor apa yang diwahyukan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Nabi 'alaihi sholatu wassalam hanya sebatas mendakwahkan apa yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Tidak memaksakan diri (membebani diri) di luar itu.

https://t.me/Salafy_Sorowako/2262

💽 Sumber Audio dari rekaman Kajian dengan tema: "3 Jalan Syaithon Merusak Bani Adam", tanggal 20 Dzulqa'idah 1443H

https://t.me/TaklimMahadIbnuKatsir/410


Remaja Kabur (Fenomena Santri Kabur dari Pondok)

Remaja Kabur (Fenomena Santri Kabur dari Pondok)

 (147)

Remaja Kabur

Kabur yang dimaksud adalah melarikan diri.

Selepas kajian Zuhur, siang kemarin, saya bertanya kepada satu per satu siswa, " Pernah kabur dari pondok? ".

80% menjawab pernah.

Saya mengajukan beberapa kemungkinan faktor yang membuat mereka kabur. 

Urutan pertama yang menjadi alasan kabur adalah pengajar yang galak. Selain itu, kesulitan beradaptasi, kangen orangtua, dan konflik dengan teman, menjadi faktor lain yang menyebabkan mereka kabur.

Pengajar galak menjadi momok yang menakutkan bagi santri. Seharusnya disayang, justru santri tertekan. Ia seakan hidup dalam teror, karena pengajarnya yang berpembawaan marah-marah dan mencaci-maki.

Itulah fakta pahit pendidikan yang mesti didiskusikan.

Kasus santri kabur, mengingatkan kita pada firman Allah Ta'ala :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu (QS Ali Imran 159)

Ibnu Katsir dalam At Tafsir, menerangkan,  " Andaikan engkau berbahasa kasar dan berhati kaku terhadap mereka, pasti mereka akan lari menyingkir dan meninggalkanmu "

Nabi Muhammad ﷺ adalah pribadi yang lembut, penyayang, dan menyenangkan. Gaya berbicara beliau menyejukkan. Bahasa yang dipilih tidak menyinggung perasaan. Sulit untuk dilupakan kata-kata beliau, saking ademnya.

Jangankan kawan, kepada lawan pun Nabi Muhammad ﷺ berbahasa dengan sopan. Musuh sekalipun diperlakukan dengan baik. Betapa penyayangnya beliau kepada kaum penentang, sampai-sampai mendoakan mereka dengan hidayah. 

Kepada orang-orang badui yang belum mengerti tata krama, Nabi Muhammad  ﷺ sabarnya luar biasa. Bahasa beliau tetap lembut. Sikap beliau selalu halus. Sebab, kepada orang-orang yang beriman, Nabi Muhammad  ﷺ adalah pribadi yang penyayang.

Memang benar Nabi Muhammad ﷺ  jika berkhutbah, kedua mata beliau memerah, suaranya meninggi, dan marahnya bertambah.Sahabat Jabir dalam riwayat Muslim meriwayatkan demikian.

Namun, hal itu tidak setiap saat. Bukan selalu tiap waktu. Sebelum dan setelah khutbah, Nabi Muhammad  ﷺ tidak demikian. 

Al Utsaimin dalam Syarah nya menjelaskan,  " Nabi Muhammad ﷺ demikian keadaannya karena sebuah maslahat. Sebab, sama-sama diketahui bahwa beliau adalah pribadi yang paling baik akhlaknya dan paling lembut perangainya. Namun, setiap kondisi ada hukumnya tersendiri"

Tidak kalah penting diingat bahwa yang dimaksud adalah kemampuan seorang orator. Suaranya tinggi dan lantang, namun menyenangkan. Walau mata memerah dan seperti sedang marah, pendengar merasa nyaman dan tenang.

Lain halnya jika pembicara memang membentak-bentak, menghentak-hentak. Pendengar bisa merasakan jika pembicara tengah meluapkan amarah, mengalirkan emosi. "Memberi nasihat atau sedang marah-marah?", pikirnya.

Bahasanya tidak indah. Kata-kata tidak tersusun baik. Kalimat-kalimatnya tak beraturan. Tidak karuan. Pendengar kurang simpati. Lagi-lagi, " Ini nasihat atau marah-marah?", pikirnya lagi.

Apalagi, hal itu memang identik dengan pribadinya. Sehari-hari seperti itu. Kepada siapa saja demikian. Itulah sifat dan karakternya. Bukan hanya saat khutbah saja!

Wajar jika santri-santri berusia remaja itu kabur. Pantas anak-anak belum berusia baligh lebih memilih lari. Sebab, mereka tidak memperoleh kasih sayang yang diinginkan. Mereka selalu ketakutan karena pengajar yang galak, kasar, dan suka marah-marah. 

Maka, bagaimana caranya, dengan bijak dan hikmah, pengajar semacam itu diberi pengarahan dan pencerahan. Sebab, mempertahankan pengajar seperti itu hanya akan merugikan lembaga pendidikan. Parahnya lagi, memunculkan stigma negatif dan mencoreng nama baik pesantren. 

Lendah, 18 Oktober 2022

t.me/anakmudadansalaf


Menyikapi Ahlussunnah yang Tahu Kesalahannya Tapi Tidak Mengakuinya

Menyikapi Ahlussunnah yang Tahu Kesalahannya Tapi Tidak Mengakuinya

MENYIKAPI AHLUSSUNNAH YANG TAHU KESALAHANNYA NAMUN TIDAK MAU MENGAKUINYA

🎙️Al Ustadz Muhammad bin Umar as-Sewed hafizhahullah


Pertanyaan: 

Bagaimana kita menyikapi seorang ahlussunnah yang sudah tau dirinya salah, akan tetapi dia tidak mau mengakui kesalahannya?.

Padahal sudah banyak pihak yang menasehatinya.

Jawab:  

Suruh dengar kajian lagi!

Suruh dengar kajian dari mulai awal sampai sekarang ini. Karena semua berkait dengan itu.

Kalau engkau mau berukhuwah maka masing-masing harus mengakui kesalahannya dan saling memaafkan.

Mustahil akan bisa bersatu hati ini kalau kemudian dia tidak mau meminta maaf.

Kemudian, ayo bersaudara!?

Orang yang di dzoliminya bingung.

Ini orang kemarin mendzolimi saya, tiba-tiba dipaksa suruh bersatu.

Kamu minta maaf dulu, akui kesalahanmu dan kedzolimanmu.

Barokallahu fiikum.

Sehingga perangkat ukhuwah adalah hendaklah kita masing-masing mengakui kesalahannya dan kemudian masing-masing minta maaf kepada saudaranya.

Turunkan,  apa namanya?

Volumenya.

Jangan ngamuk-ngamuk terus.

Turunkan. 

Iya ya akhy.

Saya salah.

Saya minta maaf pada kamu, begitu.

Bukan,

Ayo minta maaf! 

Kalian ini, tidak ada maaf!

Kalian salah!

Kalian begini!

Kalian begitu!

Ayo, Kita berukhuwah!

Aneh!.

Kita melihat ada kejanggalan.

Bahkan kalau sampai,

Mukul.

Tendang.

Ayo bersatu.

Tendang.

Ayo bersatu.

Pukul.

Ayo.. 

Bersatu.

Itu kan aneh?.

Ko maunya bersatu.

Tapi tingkahnya minta dijauhi.

Jauhi saya.. seakan-akan.

Karena kata-katanya.

🔥Menyindir.

🔥Memojokkan.

🔥Menyalahkan.

🔥Bahkan tidak pernah mengakui kesalahan dirinya.

Barokallahu fiikum.

Yang itu adalah susah.

Sehingga disebutkan dari pertanyaan ini, apakah? Padahal sudah jelas. Berarti orang ini ada masalah pada dirinya.

Wallahu Ta'ala a'lam bish-shawab.

https://t.me/Salafy_Sorowako/2245


Hukum Mendatangkan Arwah

Hukum Mendatangkan Arwah

 BOLEHKAH MENDATANGKAN ARWAH?

✍🏻 Syaikh Shalih Al-Fauzan _hafizhahullah_

Pertanyaan:

Apa hukum mendatangkan arwah? Apakah hal itu termasuk jenis sihir?

Jawaban:

Tidak diragukan lagi bahwa mendatangkan arwah termasuk salah satu jenis sihir atau perdukunan.

Arwah yang didatangkan tersebut hakikatnya bukan arwah orang yang telah meninggal seperti yang mereka katakan, melainkan setan-setan yang menjelma menjadi orang yang sudah meninggal itu.  Setan-setan itu lalu mengatakan, “Aku adalah roh Si Fulan," atau "Aku adalah Si Fulan.” 

Padahal hakikatnya dia adalah setan. 

Maka dari itu, perbuatan semacam ini tidak boleh.

Arwah orang-orang yang sudah meninggal tidak mungkin dihadirkan. Sebab, sudah berada di genggaman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya (yang artinya),

“Allah memegang jiwa ketika matinya dan memegang jiwa orang yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.” (QS. Az-Zumar: 42)

Jadi, arwah itu tidak seperti yang diklaim sebagian orang, yaitu bisa datang dan pergi. Allah saja yang mengaturnya. Karena itu, perbuatan mendatangkan arwah adalah batil, termasuk jenis sihir dan perdukunan.

📚 Sumber artikel: Al-Muntaqaa min Fataawa Al-Fauzan, 2/134-135, pertanyaan no. 109

http://telegram.me/forumsalafy


Bantahan Bahwa Ibnu Taimiyah Mujassimah

Bantahan Bahwa Ibnu Taimiyah Mujassimah

BANTAHAN ATAS TUDUHAN BAHWA SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH ADALAH MUJASSIMAH

Tambahan informasi:
*) Mujassimah = keyakinan bahwa Allah mempunyai jism / jasad (yang serupa dengan makhluk)

--------------------

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (W. 852 H) rahimahullah ta'ala mengatakan  :

وَهَذِهِ تَصَانِيْفُهُ طَافِحَةٌ بِالرَّدِّ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالتَّجْسِيْمِ وَالتَّبَرُّؤِ مِنْهُ

“Dan inilah karya-karyanya (Ibnu Taimiyyah) penuh dengan bantahan terhadap orang yang berpemahaman tajsim. Dan beliau (Ibnu Taimiyah) berlepas diri darinya.”

📚 (Taqridz Ibn Hajar terhadap kitab al-Radd al-Wafir Maktabah Ibnu Taimiyyah  : 14 , dimuat oleh As-Sakhowi, murid langsung Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dalam kitab Al-Jawahir wad Durar fi Tarjamah Syaikhil Islam Ibni Hajar, hal.735, dimuat pula diakhir kitab Ar-Rad Al-Wafir 'Ala Man Za'ama Bi Anna Man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhul Islam Kafir tahqiq: Zuhair Asy-Syāwisy, hal. 247).

--------------

Al-Hafizh Badruddin Al-‘Aini Al-Hanafi (w. 855 H) berkata :

وَهَذَا الْإِمَامُ كَمَا رَأَيْتَ عَقِيْدَتَهُ وَكَاشَفْتَ سَرِيْرَتَهُ، فَمَنْ كَانَ عَلَى هَذِهِ الْعَقِيْدَةِ كَيْفَ يُنْسَبُ إِلَيْهِ الْحُلُوْلُ وَالْإِتِّحَادُ أَوِ التَّجْسِيْمُ أَوْ مَا يَذْهَبُ إِلَيْهِ أَهْلُ الْإِلْحَادِ ؟

 “Dan sang Imam ini (Ibnu Taimiyyah) adalah sebagaimana telah engkau ketahui akidahnya dan engkau singkap kepribadiannya. 

Maka barangsiapa berada di atas akidahnya ini, bagaimana bisa pelakunya disematkan kepada pemahaman hulûl, ittihād dan tajsîm serta apa yang dipahami oleh para ahlul-ilhād ?”

Taqrizh Badruddin Al-‘Aini terhadap kitab Ar-Radd Al-Wafir 'Ala Man Za'ama Bi Anna Man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhul Islam Kafir, dimuat di akhir kitab Ar-Rad Al-Wafir, tahqiq: Zuhair Asy-Syāwisy, hal. 269, dinukil pula oleh Mahmud Syukri al-Alusi dalam kitab Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani, 2/132》

Al-Hafizh As-Sakhāwi dalam al-Dhau’ Al-Lami’ (10/135) pada biografi Al-‘Aini mengatakan, “Beliau memiliki Taqrîzh terhadap Ar-Radd Al-Wafir karya Ibnu Nashiruddin Ad-Dimasyqi (W. 842 H) yang sangat membela Ibnu Taimiyyah”.

---------------------

Syaikhul-Islam Shalih bin ‘Umar Al-Bulqini Asy-Syafi’i (w. 868 H) berkata :
 
وَلَمْ نَقِفْ إِلَى الْآنِ بَعْدَ التَّتَبُّعِ وَالْفَحْصِ عَلَى شَيْءٍ مِنْ كَلَامِهِ يَقْتَضِي كُفْرَهُ وَلَا زَنْدَقَتَهُ، إِنَّمَا نَقِفُ عَلَى رَدِّهِ عَلَى أَهْلِ الْبِدَعِ وَالْأَهْوَاءِ، وَغَيْرِ ذَلِكَ مِمَّا يُظَنُّ بِهِ بَرَاءَةُ الرَّجُلِ وَعُلُوُّ مَرْتَبَتِهِ فِي الْعِلْمِ وَالدِّيْنِ  

“Sampai sekarang aku tidak menemukan dari perkataan Ibnu Taimiyyah yang menunjukkan kekufuran dan kezindiqannya setelah aku meneliti dan menyelidikinya. Justru yang aku dapat adalah bantahannya terhadap ahlul-bid’ah dan ahlul-hawa serta yang lainnya yang menunjukkan berlepas dirinya beliau (dari setiap tuduhan yang disematkan) dan tingginya kedudukannya dalam ilmu dan agama.”

📚 (Dimuat diakhir kitab Ar-Rad Al-Wafir 'Ala Man Za'ama Bi Anna Man Samma Ibna Taimiyyah Syaikhul Islam Kafir Al-Maktab Al-Islami tahqiq: Zuhair Asy-Syawisy, hal. 250, dinukil pula oleh Mahmud Syukri Al-Alusi dalam kitab Ghayah Al-Amani Fi Ar-Radd ‘Ala An-Nabhani, 2/135).

---------------------

Asy-Syaikh Ibrahim Al-Kurani Asy-Syafi’i (w. 1101 H) rahimahullah mengatakan  :

أَقُوْلُ : اِبْنُ تَيْمِيَّةَ لَيْسَ قَائِلًا بِالتَّجْسِيْمِ

“Aku katakan : “Ibn Taimiyyah bukanlah seorang yang berkeyakinan tajsîm.”

📚 (Dinukil oleh Nu’mān al-Ālûsi dalam Jilā’ul-‘Ainain, hal. 336).

---------------------

Al-Mulla ‘Ali Al-Qari’ Al-Hanafi (w. 1014 H)

Ketika menjawab tuduhan Ibnu Hajar Al-Haitami terhadap Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim  , beliau mengatakan :

أَنَّهُمَا كَانَا مِنْ أَهْلِ السُّنَّةِ وَالْجَمَاعَةِ، بَلْ وَمِنْ أَوْلِيَاءِ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Keduanya termasuk Ahlus-Sunnah wal-Jamā’ah, bahkan termasuk walinya umat ini.”

Lalu ia menegaskan :7

وَظَهَرَ أَنَّ مُعْتَقَدَهُ مُوَافِقٌ لِأَهْلِ الْحَقِّ مِنَ السَّلَفِ وَجُمْهُوْرِ الْخَلَفِ فَالطَّعْنُ الشَّنِيْعُ وَالتَّقْبِيْحُ الفَظِيْعُ غَيْرُ مُوَجَّهٍ عَلَيْهِ وَلَا مُتَوَجِّهٍ إِلَيْهِ فَإِنَّ كَلَامَهُ بِعَيْنِهِ مُطَابِقٌ لِمَا قَالَهُ الْإِمَامُ الْأَعْظَمُ وَالْمُجْتَهِدُ الْأَقْدَمُ فِي فِقْهِهِ الْأَكْبَرِ ... وَحَيْثُ اِنْتَفَى عَنْهُ اِعْتِقَادُ التَّجْسِيْمِ.

“Maka jelaslah bahwa akidahnya (Ibnu Taimiyyah) sesuai dengan para ahlul-haq (penegak kebenaran) dari kalangan salaf dan jumhur khalaf. Maka celaan yang buruk dan hinaan yang keji tidaklah dapat dialamatkan dan ditujukan padanya. Karena perkataannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Imam yang teragung dan terkemuka dalam Fiqhul-Akbar (yaitu Imam Abu Hanifah)... Begitu pula ternafikan darinya keyakinan tajsim.” 

📚 (Mirqāh Al-Mafātih Syarh Misykah Al-Mashābîh, 8/216-217).

-----------------

Al-‘Allamah Manshur bin Yunus Al-Buhuti Al-Hanbali (w. 1051 H) rahimahullah ta'ala berkata :

كَانَ إمَامًا مُفْرَدًا أَثْنَى عَلَيْهِ الْأَعْلَامُ مِنْ مُعَاصِرِيهِ فَمَنْ بَعْدَهُمْ، وَامْتُحِنَ بِمِحَنٍ وَخَاضَ فِيهِ أَقْوَامٌ حَسَدًا، وَنَسَبُوهُ لِلْبِدَعِ وَالتَّجْسِيمِ، وَهُوَ مِنْ ذَلِكَ بَرِيءٌ، وَكَانَ يُرَجِّحُ مَذْهَبَ السَّلَفِ عَلَى مَذْهَبِ الْمُتَكَلِّمِينَ، فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ، وَأَيَّدَهُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ بِنَصْرِهِ، وَقَدْ أَلَّفَ بَعْضُ الْعُلَمَاءِ فِي مَنَاقِبِهِ وَفَضَائِلِهِ قَدِيمًا وَحَدِيثًا - رَحِمَهُ اللَّهُ - وَنَفَعَنَا بِهِ.

“Beliau (Ibnu Taimiyyah) adalah imam yang istimewa. 

Para ulama baik yang sezaman maupun setelahnya memujinya. 

Beliau diuji dengan berbagai ujian, beberapa kalangan terjerumus pada sikap hasad kepadanya, dan mereka menyematkan bid’ah dan tajsîm kepada beliau, padahal beliau berlepas diri darinya. 

Beliau merajihkan madzhab salaf di atas madzhab ahli kalam. 

Maka terjadilah apa yang terjadi pada beliau. 

Allah menolongnya atas mereka dengan pertolongan-Nya. Sebagian ulama baik yang dulu maupun kemudian telah menyusun keutamaan-keutamaan dan manaqibnya –rahimhullah-, dan kami mendapatkan manfaat darinya.” 

📚 (Kasysyāf Al-Qinā’ ‘An Matni Al-Iqnā’ Dār Ālimul Kutub , Cetakan Khusus  2003 M - 1423 H jilid pertama halaman : 29).


----------

Sumber :https://t.me/salafy_cirebon

Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Seorang Penuntut Ilmu

Kitab-kitab yang Hendaknya Dipelajari Seorang Penuntut Ilmu

 Kitab-kitab yang hendaknya dipelajari oleh seorang thalib

Kami nukilkan secara ringkas dari fatwa Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah | Hal ini juga tercantum pada kitab Kitabul Ilmi, halaman 92..

1. Pertama; Kitab-kitab aqidah (tauhid)

• Kitab Tsalatsatul Ushul

• Kitab Al-Qowaid Al-Arba'

• Kitab Kasyfus Syubhat

• Kitab At-Tauhid

• Kitab Al-Aqidah Al-Wastiyyah

• Kitab Al-Hamawiyyah

• Kitab At-Tadmuriyyah

• Kitab Al-Aqidah At-Thahawiyyah

• Kitab Syarah Al-Aqidah At-Thahawiyyah

• Kitab Ad-Duraru As-Saniyyah Fiy Al-Ajwabah An-Najdiyyah

• Kitab Ad-Durratu Al-Mudhiyyah Fiy Aqidatil Firqatil Mardhiyyah


2. Kedua; Kitab-kitab hadits

• Kitab Fathul Bariy Syarh Shahih Al-Bukhari

• Kitab Subulus Salam Syarh Bulughul Maram

• Kitab Nailul Authar Syarh Muntaqal Akhbar

• Kitab Umdatul Ahkam

• Kitab Al-Arba'in An-Nawawiyyah

• Kitab Bulughul Maram

• Kitab Nukhbatul Fikr Li Ibni Hajar Al-Asqalaniy

• Kitab As-Sittah; Shahih Al-Bukhari, Muslim, An-Nasai, Abu Dawud, Ibni Majah, At-Tirmidzi


3. Ketiga; Kitab-kitab fikih

• Kitab Adab Al-Masyi Ila As-Shalah

• Kitab Zadul Mustaqni' Fiy Ikhtisharil Muqni'

• Kitab Ar-Raudh Al-Murba' Syarh Zadul Al-Mustaqni'

• Kitab Umdatul Fiqh


4. Keempat; Kitab-kitab faraidh (ilmu waris)

• Kitab Matan A-Rahbiyyah

• Kitab Matan Al-Burhaniyyah


5. Kelima; Kitab-kitab tafsir

• Kitab Tafsir Al-Quran Al-Karim (Ibnu Katsir)

• Kitab Taisir Al-Karim A-Rahman Fiy Tafsiri Kalamil Mannan (Tafsir As-Sa'dy)

• Kitab Muqaddimah Syaikhul Islam Fiy At-Tafsir

• Kitab Adhwa'ul Bayan


6. Keenam; Kitab-kitab nahwu

• Kitab Matan Al-Ajurumiyyah

• Kitab Alfiyah Ibnu Malik


7. Ketujuh; Kitab-kitab siroh

• Kitab Zadul Ma'ad

• Kitab Raudhatul Uqala'

• Kitab Siyar A'lamin Nubala'


https://t.me/faedahislamiyahslogohimo/7698


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia